Manajer Manchester City, Pep Guardiola, secara terbuka mengisyaratkan bahwa dirinya tidak kangen melatih lagi sesaat setelah nantinya resmi meninggalkan klub raksasa Inggris tersebut. Juru taktik asal Spanyol itu mengungkapkan keinginan kuat untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia sepak bola demi menikmati kehidupan personalnya.
Pernyataan ini sekaligus mementahkan berbagai rumor yang sempat mengaitkan namanya dengan sejumlah klub papan atas di Serie A Italia. Alih-alih langsung mencari tantangan taktis baru di luar negeri, Guardiola memilih untuk memprioritaskan kedamaian di luar lapangan hijau.
Alasan Pep Guardiola Tidak Kangen Melatih dan Fokus Keluarga
Keputusan untuk mengambil jeda dari rutinitas sepak bola profesional dinilai sebagai langkah yang sangat dinantikan oleh Guardiola. Setelah bertahun-tahun berada di bawah tekanan kompetisi tingkat tinggi, ia merasa saatnya telah tiba untuk mengeksplorasi minat lain yang selama ini tertunda.

Also Read
Guardiola menegaskan bahwa dirinya ingin melakukan hal lain di luar sepak bola serta menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarganya. Jadwal kompetisi domestik dan Eropa yang sangat padat selama menukangi The Citizens diakuinya telah menyita banyak waktu berharga bersama orang-orang terdekat.
Menepis Rumor Ketertarikan dari Italia
Pernyataan teranyar ini sekaligus menjadi jawaban dingin bagi publik sepak bola di Italia yang sempat berharap sang manajer legendaris bersedia menukangi salah satu klub Serie A dalam waktu dekat. Spekulasi mengenai masa depannya memang terus bergulir seiring dengan mendekatnya akhir masa bakti di Etihad Stadium.
Mengambil masa rehat atau sabatikal sebenarnya bukan hal baru dalam perjalanan karier Guardiola. Juru taktik berusia 53 tahun tersebut sebelumnya pernah mengambil istirahat panjang selama satu tahun di New York setelah memutuskan mundur dari Barcelona pada tahun 2012 silam, sebelum akhirnya menerima pinangan Bayern Munchen.
‘Pep Guardiola tidak kangen melatih usai meninggalkan Manchester City. Ia ingin melakukan hal lain di luar sepakbola serta menghabiskan waktu bersama keluarga.’
Langkah ini menunjukkan bahwa bagi seorang pelatih dengan reputasi global sekalipun, keseimbangan antara karier profesional dan kehidupan pribadi tetap menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditawar.














