Pantulan Gerhana di Genangan Air

Dilihat ( 280 x) Oct 22, 2019 0 komentar

Pada tanggal 26 Desember 2019, Gerhana Matahari akan terjadi dan dapat dilihat di seluruh wilayah Indonesia. Di beberapa lokasi, seperti Siak (Provinsi Riau) dan Singkawang (Provinsi Kalimantan Barat), Gerhana Matahari Cincin dapat dilihat. Bila dilihat di daerah tersebut, sekitar 97% piringan Matahari akan tertutupi piringan Bulan sehingga hanya cincin kuning yang akan tersisa.

Gerhana nanti bisa dianggap istimewa bagi Indonesia karena puncak gerhana terjadi saat tengah hari di Indonesia bagian barat. Sebagaimana diperlihatkan di sejumlah peta atau informasi teknis terkait, Pulau Pedang (atau Padang) di Provinsi Riau merupakan lokasi yang disebut circumstance at greatest eclipse. Artinya, Pulau Pedang, Bulan, dan Matahari dapat dihubungkan dengan garis lurus. Di pulau itu, puncak gerhana terjadi saat tengah hari ketika Matahari berada tepat di atas kepala. Dari tempat lain di Indonesia, puncak gerhana terjadi sekitar pukul 11.45 WIB hingga sekitar pukul 15.45 WIT. Tentu waktu puncak amat bergantung pada lokasi geografis dari tempat pengamatan.

Seandainya langit cerah, maka gerhana dapat disaksikan saat siang hari. Teriknya Matahari berkurang sedikit demi sedikit ketika piringan Bulan menutupi piringan Matahari. Saat siang hari, tentu Matahari (maupun Bulan) tampak tinggi di langit. Karena itu, baskom dan air bisa jadi alat bantu pengamatan gerhana yang paling sederhana. Ada aspek fisika optik yang menarik untuk diketahui sebelum menggunakan baskom dan air untuk melihat gerhana Desember nanti.


Permukaan air dapat memantulkan sebagian atau seluruh cahaya yang datang padanya. Bergantung pada sudut datangnya, cahaya yang datang tegak lurus dengan permukaan air (sudut datang 0 derajat) sebagian besar akan diteruskan. Hanya sekitar 3% saja yang dipantulkan kembali oleh permukaan tersebut. Sebaliknya, cahaya yang datang dengan sudut datang lebih dari 80 derajat sebagian besar akan dipantulkan. Hal ini menjelaskan kenapa permukaan air bukan merupakan cermin yang baik untuk memeriksa muka kita.

Pada saat gerhana Desember nanti, posisi Matahari yang jauh dari ufuk justru membuat air menjadi sarana pengamatan yang mudah diakses. Cukup dengan menampung air di suatu wadah, pengamatan gerhana dapat dilakukan dengan aman. Air menjadi reflective filter alami yang bisa dibuat oleh masyarakat umum. Hanya saja, perlu menjadi catatan bahwa melihat pantulan Matahari selama lebih dari 10 detik tidak disarankan. Meski hanya 3% dari intensitas aslinya, pantulan sinar Matahari masih cukup menyilaukan,

Komentar