Gerhana Matahari Cincin, Festival Siak

Dilihat ( 278 x) Dec 12, 2019 0 komentar

Akan terjadi 3 gerhana Matahari pada tahun 2019. Yang akan dapat teramati dari wilayah Indonesia adalah gerhana Matahari cincin (annular Solar eclipse) pada tanggal 26 Desember 2019. Apa itu gerhana Matahari cincin (seterusnya akan disingkat “GMC”), dan apa perbedaannya dengan gerhana Matahari “biasa”? Gerhana Matahari terjadi saat Bulan berada pada fase Bulan baru, ketika posisi Bulan terletak antara Bumi dan Matahari. Perlu diingat bahwa gerhana Matahari tidak selalu terjadi pada tiap fase Bulan baru. Hal ini dikarenakan Bulan bergerak mengelilingi Bumi dengan kemiringan orbit ± 5° terhadap bidang orbit Bumi terhadap Matahari (ekliptika). Karena kemiringan orbit ini, Bulan tidak selalu akan berada sejajar dengan Matahari dan Bumi. Namun, apabila fase Bulan baru terjadi saat Bulan berada pada titik perpotongan garis orbitnya dengan bidang orbit Bumi-Matahari, maka gerhana akan terjadi. Saat gerhana, piringan Matahari di langit akan tertutup oleh piringan Bulan sehingga cahaya Matahari akan terhalang. Kerucut bayang-bayang Bulan yang disebut umbra dan penumbra akan jatuh ke sebagian wilayah permukaan Bumi. Bagi pengamat yang berada di wilayah penumbra, piringan Matahari akan tampak tertutup sebagian oleh Bulan dan langit akan menjadi lebih gelap akibat berkurangnya cahaya Matahari yang tiba di lokasi pengamat. Pada kondisi ini, pengamat akan menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian. Semakin dekat ke wilayah umbra, bagian piringan matahari yang tertutup Bulan akan semakin luas; kondisi langit akan semakin gelap. Apabila pengamat berada dalam wilayah umbra, seluruh bagian piringan matahari akan tertutup oleh bayangan Bulan. Pada kondisi tersebut, pengamat akan menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total. Saat gerhana Matahari total, piringan Matahari akan tertutup seluruhnya oleh piringan Bulan. Namun, pada 26 Desember 2019 nanti, piringan Bulan tidak akan 100% menutupi piringan Matahari. Apa maksudnya? Bulan mengelilingi Bumi dalam orbit elips. Artinya, ada kalanya Bulan berada dekat dengan Bumi, ada kalanya jauh. Jarak terdekat Bumi dengan Bulan adalah ±363.104 km (perige), sedangkan jarak terjauhnya ±405.696 km (apoge). Karena perbedaan jarak inilah, ada kalanya Bulan tampak besar di langit, ada kalanya tampak lebih kecil. Ketika Bulan berada segaris dengan Bumi dan Matahari, dan Bulan berada pada titik apogee, piringan Bulan akan tampak lebih kecil daripada piringan Matahari dan tidak akan menutupi piringan Matahari sepenuhnya. Kerucut umbra tidak sampai ke permukaan Bumi dan akan terbentuk kerucut tambahan yang disebut antumbra. Pengamat yang berada dalam wilayah antumbra akan melihat Matahari tampak seperti “cincin” di langit. Inilah yang disebut gerhana Matahari cincin. Seberapa sering GMC terjadi? Secara umum, GMC terjadi tiap 1-2 tahun sekali. GMC terakhir terjadi pada tanggal 26 Februari 2017. GMC dalam 6 tahun ke depan akan terjadi pada tanggal 26 Desember 2019, 21 Juni 2020, 10 Juni 2021, 14 Oktober 2023, dan 2 Oktober 2024. Dari semua tanggal ini, hanya gerhana pada tahun 2019 yang dapat diamati dari wilayah Indonesia.


Klik di sini untuk menonton video

Komentar