Jakarta, GerhanaIndonesia – Teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin merambah berbagai aspek kehidupan manusia. Sebuah survei terbaru dari Kaspersky mengungkapkan fakta menarik: 3 dari 10 orang Indonesia memanfaatkan AI sebagai teman curhat atau pendamping emosional. Temuan ini menyoroti bagaimana AI tidak hanya berperan dalam pekerjaan atau hiburan, tetapi juga dalam memenuhi kebutuhan emosional penggunanya.
Survei global Kaspersky ini melibatkan ribuan responden dari berbagai negara. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki angka yang cukup signifikan dalam penggunaan AI untuk tujuan tersebut. Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang dampak dan potensi risiko dari ketergantungan pada AI sebagai pendamping emosional.
AI dan Generasi Z: Sebuah Keterikatan
Penggunaan AI sebagai teman curhat paling menonjol pada Generasi Z dan milenial. Mereka tampak lebih terbuka dan terbiasa menjadikan teknologi AI sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Also Read
Kaspersky dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan, “Generasi Z dan milenial menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI di antara semua usia, dengan 35 persen responden memilih opsi ini.”
Sebaliknya, generasi yang lebih tua cenderung kurang tertarik. Hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan untuk berbagi cerita dengan AI ketika mereka merasa kesal.
Bahaya di Balik Layar: Risiko Curhat ke AI
Kemampuan AI dalam merespons secara personal memang membuatnya terasa seperti sahabat dekat. AI mampu memberikan saran dan kalimat penyemangat, seolah-olah seperti teman yang peduli. Namun, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai.
Penting untuk diingat bahwa sebagian besar chatbot dari perusahaan komersial memiliki kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data mereka sendiri. Pengguna perlu berhati-hati dalam menyampaikan curhatannya.
Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, mengingatkan akan potensi risiko:
“Penting untuk diingat bahwa mereka belajar memberikan jawaban dari data, yang sebagian besar bersumber dari Internet, artinya mereka rentan untuk mengulang kesalahan dan bias dari teks yang digunakan untuk pelatihan. Sangat disarankan untuk merangkul saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan mencoba untuk menghindari berbagi informasi secara berlebihan.”
Kiat Aman Berbagi Cerita dengan AI
Untuk menjaga privasi data saat menggunakan AI, Kaspersky memberikan beberapa tips:













