Jakarta, GerhanaIndonesia – Lautan, yang selama ini dikenal sebagai ‘mesin’ pembentuk badai tropis dan topan terkuat di dunia, kini menghadapi tantangan baru. Perubahan iklim telah menyebabkan pemanasan signifikan di lautan, memicu kekhawatiran akan peningkatan intensitas badai.
Fenomena ini, terutama terlihat di Samudra Atlantik Utara dan Pasifik Barat, tidak hanya disebabkan oleh peningkatan suhu permukaan laut. Akumulasi panas yang menembus lapisan laut yang lebih dalam juga menjadi faktor penting. Hal ini mengarah pada potensi badai yang lebih kuat dan sulit diprediksi, memberikan dampak yang signifikan bagi wilayah pesisir.
ADVERTISEMENT

Also Read
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peran Perubahan Iklim
Penelitian terbaru mengungkapkan dampak signifikan perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Diperkirakan bahwa manusia bertanggung jawab atas 70 persen perluasan wilayah panas yang menjadi tempat pembentukan badai. Peningkatan titik panas ini meningkatkan kemungkinan terjadinya badai tropis yang sangat intens, bahkan berpotensi mencapai kategori 6, dan mengancam wilayah pantai yang padat penduduk.
Profesor emeritus di Departemen Ilmu Atmosfer Universitas Nasional Taiwan, I-I Lin, menekankan perluasan wilayah panas tersebut. Lin mempresentasikan penelitiannya tentang siklon tropis pada Pertemuan Tahunan AGU 2025 di New Orleans, Louisiana.
Usulan Kategori Badai Baru
Lin, yang telah mengkaji badai tropis dan topan ekstrem selama lebih dari satu dekade, mengamati dampak dahsyat Topan Haiyan pada tahun 2013 yang menewaskan ribuan orang di Filipina. Hal ini mendorong penelitiannya lebih lanjut.
Pada tahun 2014, Lin dan rekan-rekannya mengusulkan kategori baru, Kategori 6, untuk mengklasifikasikan badai yang sangat kuat dalam jurnal AGU Geophysical Research Letters. Mereka berpendapat bahwa badai dengan kecepatan angin di atas 160 knot memerlukan klasifikasi tersendiri.
Kategori 5, yang saat ini menjadi kategori tertinggi, mengklasifikasikan badai dengan kecepatan angin di atas 137 knot. Lin menyoroti bahwa kategori badai biasanya mencakup rentang sekitar 20 knot, sehingga Kategori 6 akan lebih konsisten dalam pengklasifikasian badai.
Sebagai contoh, kategori 4 meliputi kecepatan angin antara 114 dan 137 knot.
Badai Terkuat yang Pernah Tercatat
Beberapa badai terkenal berpotensi masuk dalam kategori 6 yang diusulkan. Salah satunya adalah Badai Tropis Wilma pada tahun 2005, yang tetap menjadi badai tropis terkuat yang pernah tercatat di Cekungan Atlantik.
Badai Tropis Haiyan dan Hagibis juga memenuhi kriteria tersebut. Hagibis, yang menghantam Tokyo pada tahun 2019, menyebabkan kerusakan besar akibat hujan dan angin, meskipun telah sedikit melemah sebelum mencapai kota.
Contoh lain adalah Badai Patricia, yang terbentuk di Samudra Pasifik di lepas pantai Meksiko. Badai ini memegang rekor sebagai siklon tropis terkuat dengan kecepatan angin mencapai 185 knot, bahkan berpotensi dikategorikan sebagai badai Kategori 7 jika kategori tersebut ada.
Lin menyebut Badai Patricia sebagai “raja dunia”.
Titik Panas Laut dan Badai Besar
Lin dan timnya menganalisis catatan badai tropis besar dari 40 tahun terakhir untuk memahami frekuensi terjadinya badai ekstrem. Hasilnya menunjukkan peningkatan frekuensi badai dengan kecepatan lebih dari 160 knot.
Antara tahun 1982 dan 2011, hanya ada delapan badai semacam itu. Namun, dari tahun 2013 hingga 2023, jumlahnya meningkat menjadi 10.
Secara keseluruhan, 18 badai Kategori 6 telah terjadi dalam empat dekade terakhir, dengan lebih dari separuhnya terbentuk dalam dekade terakhir.
Lokasi Pembentukan Badai
Lin juga memaparkan penelitiannya tentang lokasi pembentukan badai. Ia menunjukkan bahwa hampir semua badai tropis kategori 6 berkembang di dalam titik panas laut tertentu.
Titik panas terbesar terletak di Samudra Pasifik Barat, sebelah timur Filipina dan Borneo. Titik panas utama lainnya membentang di sebagian wilayah Samudra Atlantik Utara, di sebelah timur Kuba, Hispaniola, dan Florida.
Studi tersebut juga menemukan bahwa titik panas ini terus meluas. Di Samudra Atlantik Utara, wilayah tersebut telah meluas ke timur melampaui pantai utara Amerika Selatan dan ke barat hingga mencakup sebagian besar Teluk.
Titik panas ini tidak hanya ditentukan oleh air permukaan yang hangat, tetapi juga oleh lapisan panas yang tidak biasa dalam di bawah permukaan.
Di banyak bagian lautan, badai yang kuat mengaduk air yang lebih dingin dari bawah, yang melemahkan badai tersebut. Namun, di wilayah titik panas, air hangat menjangkau begitu dalam sehingga badai tidak mendingin dengan mudah.
Lin menekankan bahwa kondisi laut yang hangat saja tidak menjamin pembentukan badai Kategori 6. Kondisi atmosfer juga harus sejalan.
“Titik panas adalah syarat yang diperlukan tetapi tidak cukup,” ungkap Lin.
(wpj/dmi)













