Jakarta, GerhanaIndonesia – Kelompok teroris ISIS dilaporkan semakin gencar memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Tujuannya adalah untuk memperkuat propaganda mereka dan memperluas penyebaran ideologi, termasuk melalui penggunaan bot pembuat suara yang mudah diakses di internet.
Penggunaan AI ini memungkinkan ISIS mereplikasi suara dan pidato tokoh-tokoh terkemuka dalam komunitas mereka. Para ahli meyakini bahwa langkah ini menjadi salah satu cara efektif bagi kelompok teroris tersebut untuk berkembang.
Propaganda Digital ISIS: AI sebagai Senjata Baru
Lucas Webber, seorang analis intelijen ancaman senior di Tech Against Terrorism dan peneliti di Soufan Center, menyatakan bahwa penggunaan AI dalam propaganda oleh teroris dan ekstremis menandai perubahan signifikan.

Also Read
Webber juga menjelaskan bahwa metode penyebaran propaganda kelompok teroris dan ekstremis telah berkembang pesat. Dulu, mereka mengandalkan penerjemah manusia atau terjemahan mesin sederhana, yang seringkali terbatas dalam hal ketepatan bahasa dan nuansa gaya.
Kemampuan AI dalam Propaganda
Webber menjelaskan bahwa dengan hadirnya alat kecerdasan buatan generatif canggih, kelompok-kelompok ini mampu menghasilkan terjemahan yang lebih baik. Penerjemahan yang dihasilkan AI mampu menjaga nada, emosi, dan intensitas ideologis di berbagai bahasa.
Media pro-ISIS di jaringan terenkripsi sekarang menggunakan teknologi kloning suara untuk mengubah konten ideologis dari publikasi resmi menjadi teks-ke-suara. Hal ini mempercepat penyebaran pesan mereka, mengubah propaganda berbasis teks menjadi narasi multimedia yang lebih menarik.
Kelompok teroris jihadis memanfaatkan AI untuk menerjemahkan ajaran ekstremis dari bahasa Arab menjadi konten multibahasa yang mudah dipahami.
Dahulu, Anwar al Awlaki, seorang tokoh Al Qaeda, harus merekam ceramahnya sendiri dalam bahasa Inggris untuk kepentingan propaganda. Suara Al Awlaki dianggap sebagai faktor penting dalam penyebaran pesan Al Qaeda oleh CIA dan FBI.
Penggunaan AI oleh Berbagai Kelompok
Penggunaan AI tidak hanya terbatas pada ISIS. Kelompok-kelompok dari berbagai spektrum ideologis juga memanfaatkan teknologi ini. Mereka menggunakan aplikasi AI gratis, seperti chatbot ChatGPT dari OpenAI, untuk memperluas aktivitas mereka.
Teknologi kloning suara berbasis AI juga populer di kalangan sayap kanan neo-Nazi. Mereka menggunakannya untuk membuat video pidato pemimpin Nazi Adolf Hitler ke dalam bahasa Inggris.
Video-video Adolf Hitler tersebut telah ditonton puluhan juta kali di platform seperti X, Instagram, TikTok, dan aplikasi lainnya.
Penelitian dari Global Network on Extremism and Technology (GNet) mengungkapkan bahwa pembuat konten ekstremis beralih ke layanan kloning suara seperti ElevenLabs. Mereka memasukkan pidato arsip dari era Reich Ketiga ke dalam layanan tersebut, kemudian diproses untuk meniru suara Hitler dalam bahasa Inggris.
Contoh Penerapan AI oleh Neo-Nazi
Neo-Nazi, yang merencanakan aksi teror terhadap pemerintah Barat, juga mengadopsi alat-alat ini untuk menyebarkan versi terbaru pesan-pesan mereka yang bernada kekerasan.
Sebagai contoh, “Siege,” sebuah manual pemberontakan karya James Mason, seorang neo-Nazi Amerika, telah diubah menjadi buku audio pada akhir November.
Seorang influencer neo-Nazi terkemuka di X dan Telegram, yang terlibat dalam pembuatan buku audio tersebut, menjelaskan prosesnya.
Berikut adalah pernyataan dari influencer neo-Nazi tersebut:
“Selama beberapa bulan terakhir, saya terlibat dalam pembuatan buku audio Siege karya James Mason. Dengan menggunakan model suara kustom Mason, saya merekonstruksi setiap buletin dan sebagian besar kliping koran yang terlampir agar sesuai dengan buletin asli yang diterbitkan.”
Ia menambahkan:
“Namun, mendengar ketepatan prediksi yang dibuat pada awal tahun 1980-an benar-benar menandai tonggak sejarah dan mengubah pandangan saya tentang perjuangan bersama kita pada tingkat yang mendasar.”
Pada tahun 2020, kelompok Base, yang berfokus pada “Siege,” menarik perhatian karena pengaruh teks tersebut terhadap anggotanya. Penyelidikan kontra-terorisme FBI menangkap lebih dari selusin anggotanya dengan berbagai tuduhan terkait terorisme.
Joshua Fisher-Birch, seorang analis terorisme di Counter Extremism Project, menilai bahwa status “Siege” yang menyerupai sekte di kalangan kelompok ekstrem kanan daring, adanya promosi kekerasan, dan posisinya sebagai bacaan wajib bagi kelompok neo-Nazi berkontribusi terhadap kontroversi tersebut.
Pihak berwenang kontra-terorisme menghadapi tantangan dalam mengikuti perkembangan kelompok teroris yang terus memanfaatkan kemajuan teknologi dan internet.













