Jakarta, GerhanaIndonesia – Penunjukan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia mengundang berbagai respons. Salah satunya datang dari pengamat sepak bola nasional, Supriyono Prima. Ia menyoroti minimnya pengalaman Herdman di kancah sepak bola ASEAN sebagai sebuah faktor yang menarik untuk dianalisis.
Meskipun demikian, Supriyono menilai bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kendala yang tak dapat diatasi oleh pelatih sekaliber Herdman. Penilaian ini menjadi sorotan utama dalam menganalisis penunjukan pelatih anyar Timnas Indonesia tersebut.
Minim Pengalaman Bukan Halangan
Supriyono menjelaskan bahwa meski pengalaman melatih di Asia Tenggara menjadi aspek yang menarik untuk dicermati, ia yakin Herdman memiliki kapabilitas untuk mengatasinya.

Also Read
Faktor Kecepatan dan Agresivitas
Supriyono juga menyoroti perbedaan gaya permainan sepak bola di ASEAN dengan gaya di wilayah lain. Menurutnya, karakter permainan di ASEAN dikenal dengan kecepatan dan agresivitas fisik yang dinamis, berbeda dengan gaya taktikal Amerika Utara atau fisik di Eropa.
Kemampuan Managerial Herdman
Supriyono meyakini bahwa kemampuan manajerial yang baik akan membantu Herdman dalam membangun mentalitas pemenang di Timnas Indonesia.
Ia menyoroti rekam jejak Herdman sebagai pelatih yang memiliki kecerdasan taktis luar biasa. Herdman juga dinilai memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni dengan pendekatan sport science. Selain itu, ia juga dinilai mampu membangun kultur dan mentalitas pemenang, seperti yang ditunjukkannya saat melatih timnas Kanada.
“Herdman adalah bukan hanya seorang pelatih tapi bagaimana dengan kecerdasan taktis memiliki kemampuan managerial yang luar biasa dengan pendekatan sport science, membangun kultur dan membangun mentalitas pemenang seperti kesuksesannya membawa Kanada baik putra maupun putri ke Piala Dunia menunjukkan ia ahli dalam membangun struktur tim dari dasar,” ujar Supriyono.
Tantangan Herdman: Mengelola Pemain dan Budaya
Namun, Supriyono melihat ada tantangan utama yang harus dihadapi Herdman, yaitu dalam hal mengelola pemain dan memahami budaya sepak bola di Tanah Air.
“Kendala utama mungkin bukan pada gaya main, melainkan pada logistik dan budaya. Mengelola pemain yang tersebar di liga lokal dan pemain naturalisasi di Eropa memerlukan manajemen komunikasi yang intens,” tutur Supriyono.
Lebih lanjut, Supriyono menambahkan bahwa Herdman dikenal sebagai motivator ulung. Hal ini dianggap bisa menjadi kekuatan untuk menyatukan ruang ganti.
“Herdman dikenal sebagai motivator ulung, sehingga aspek psikologis ini justru bisa menjadi kekuatan baginya untuk menyatukan ruang ganti,” tutup Supriyono.

















